Cover MRT Indonesia A-Z
TRAVEL STORY

MRT Seperti Wisata Baru Warga Jakarta

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Kontributor: Fiona Fleurette

Dua hari sebelum masa berakhirnya uji coba MRT (moda Raya Terpadu) Bundaran HI – Lebak Bulus, gue bersama 3 teman menyempatkan diri untuk menjelajahi moda transportasi baru di ibu kota. Mumpung masih gratis, bisa coba lihat beberapa stasiun dengan fasilitasnya.

Pintu Masuk MRT Indonesia A-Z
Pintu Masuk MRT

Di siang hari, berangkatlah kami ke stasiun paling dekat dari kantor, yaitu Stasiun Dukuh Atas. Kebetulan kantor kami ada di Jalan Gatot Subroto, sehingga kami memutuskan untuk naik Trans Jakarta (TJ) dahulu baru menyambung ke MRT. Ada dua cara kalau dari Gatot Subroto ke Halte Dukuh Atas, bisa naik nomor bus TJ 6M (Blok M – Manggarai) turun di Dukuh Atas 2. Bisa juga naik nomor Bus TJ 6B (Ragunan – Monas via Semanggi), turun di Dukuh Atas 1. Setelah cari tahu, ternyata lumayan jauh halte TJ Dukuh Atas 1 maupun 2 dengan Stasiun MRT Dukuh Atas.

Akhirnya kami memutuskan untuk langsung saja ke Stasiun Bundaran HI. Naiklah kami bus TJ 6B dan turun di Tosari. Bus rute Ragunan-Monas ini ternyata melewati Halte Dukuh Atas 1, memang sih terlihat tangga pintu masuk dan keluar MRT yang berada di sebelum Halte Dukuh Atas 1 tersebut. Tetapi ternyata bukan itu Stasiun Dukuh Atas, melainkan Stasiun Setiabudi Astra! Keder kami semua. Jadi dimanakah Stasiun Dukuh Atas berada?

Namun, kami dengan PD aja melaju terus dengan bus TJ. Sesuai kesepakatan mau ke Stasiun Bundaran HI, kami turun di Halte Tosari saja. Sempat bingung setelah turun di Halte Tosari, karena JPO sudah tidak ada. Ya, per akhir tahun lalu JPO Tosari dibongkar, lalu digantikan dengan pelican crossing yang cukup ramah untuk disabilitas menyebrang jalanan. Ada polisi yang membantu kami menyebrang, walaupun ada lampu tanda menyebrang dan zebra cross.

Setelah bertanya, ternyata ada stasiun MRT yang paling dekat dengan Halte Tosari, yaitu stasiun di depan gedung BNI 46. Soalnya lumayan jauh jalan kaki ke Stasiun Bundaran HI dari Halte TJ Tosari. Setelah kami menyebrang ke arah Gedung UOB, kami jalan ke arah Gedung BNI 46. Pas di depan Gedung BNI 46, ada tangga ke bawah dengan tulisan di depannya Stasiun Dukuh Atas BNI. Nah!! ini dia Stasiun Dukuh Atas yang dari tadi kami cari. Jadi nama lengkap stasiun ini supaya gak rancu lagi, disebut “Stasiun Dukuh Atas BNI”. Posisinya di dekat BNI 46, dan tidak jauh dari sana ada pintu masuk KRL Sudirman dan Railing Bandara Soekarno Hatta (Sudirman Baru). Mungkin biar gak sama dengan stasiun KRL Sudirman, namanya dibedakan. Cuma jadinya bingung, karena jauh banget dari Halte TJ Dukuh Atas.

Aktivasi Kartu MRT Indonesia A-Z
Aktivasi Kartu MRT

Kami pun turun melalui tangga Stasiun Dukuh Atas BNI tersebut. Disapa dengan ramah petugas dan satpam MRT. Setelah menunjukan QR tiket yang telah dibeli melalui website www.ayocobamrtj.com. Kami mendapatkan stiker biru sebagai tanda masuk. Di stasiun Dukuh Atas BNI tersebut, sudah ada mesin aktifasi kartu MRT, berwarna kuning. Lain kalau di KRL, aktifasi kartu berwarna merah. Ada pula mesin Penyesuaian Tarif (Fare Adjustment), mesin ini untuk isi ulang kartu MRT. Tap in dan tap out hampir sama dengan KRL atau pun TJ. Toilet yang bersih. Ruangan tersendiri untuk ibu menyusui. Terlihat pula lift untuk teman-teman disabilitas. Kami sendiri memalui eskalator turun, baru kelihatan peron 1 menuju Lebak Bulus dan peron 2 menuju Bundaran HI.

Tap In MRT Indonesia A-Z
Tap In

Sambil menunggu kedatangan kereta MRT, kami keliling melihat sekeliling. Sudah ada peta MRT. Baru lah terjawab penasaran gue ketika melihat peta MRT, jadi yang tadi kami lihat ada stasiun MRT sebelum Halte TJ Dukuh Atas dari arah Blok M, stasiun tersebut dinamakan Stasiun Setiabudi ASTRA. Karena dekat sana ada gedung Astra. Sepertinya penamaan stasiun berdasarkan gedung di sekitar. Seperti Stasiun Istora Mandiri yang sebenarnya stasiun ini dekat dengan Istora-GBK dan Gedung Mandiri. Begitu juga dengan Stasiun ASEAN yang berada di dekat gedung ASEAN Sekretariat dan tidak jauh dari masjid Al-Azhar.

Kereta MRT pun datang dari Stasiun Dukuh Atas BNI ke Bundaran HI, para petugas mengingatkan penumpang untuk berdiri di garis kuning, bukan di garis merah. Sungguh rapih dan sangat informatif. Memang masih kurang untuk pemberitahuan kedatangan, namun petugas menggunakan suara pengeras dan berkeliling sepanjang peron untuk pemberitahuan posisi terakhir kereta MRT berada. Mungkin ke depannya akan ada pengeras suara di langit-langit peron.

Berhubung masih uji coba dan gratis, tak tangung-tangung menjelajahi 4 Stasiun, Dukuh Atas BNI, Bundaran HI, Lebak Bulus dan termasuk stasiun terakhir yaitu Stasiun Senayan – depan Ratu Plaza. Walaupun tinggal beberapa hari lagi uji coba, antusias penumpang cukup tinggi. Buktinya penuh sekali di dalam kereta. Pegangan tangan bagi gue yang tingginya cuma 155 cm aja, sangat enak untuk menggapainya. Tulisan dan suara pemberitahuan di dalam kereta MRT cukup jelas. Suara kereta MRT tidak bising. Dan terlebih lagi yang membuat satu gerbong kereta MRT terkagum-kagum yaitu keluarnya jalur undeground menuju jembatan layang MRT. “WOOOOOooooo!!” serentak terdengar suara penumpang satu gerbong melihat cahaya matahari masuk dari jendela kereta MRT.

MRT Jakarta Indonesia A-Z
MRT Jakarta

Ya, dari Stasiun Bundaran HI hingga stasiun Senayan, rute MRT di bawah tanah. Selepas stasiun Senayan, MRT mulai menanjak dan berada di jalur layang. Sungguh tidak terasa ada tanjakan atau kemiringan tertentu! HEBAT! Juara deh arsitek dan sipilnya! *mau nangis terharu Indonesia punya moda transportasi keren

Jarak waktu tempuhnya cuma setengah jam saja dari Stasiun Bundaran HI-Stasiun Lebak Bulus! Cepat yaa!! Coba kalau bawa mobil, bisa lewatin berapa titik kemacetan tuh. Bisa aja dengan mobil pribadi 1 jam hingga 1,5 jam dari titik dan rute yang sama.

Sampailah di Stasiun Lebak Bulus, berbeda dengan stasiun-stasiun underground. Stasiun Lebak Bulus tidak terasa ada pendingin ruangan setelah turun tangga dari peron. Beberapa spot terlihat ada kipas angin saja. Jelas kalau di paron tidak perlu kipas karena angin di sekitar cukup kencang. Namun, lantai sangat bersih dan penerangan lampu cukup terang. Berhubung waktu itu langit sudah mulai gelap, tanda mau hujan.

Untuk kembali ke Stasiun Bundaran HI, kami harus berganti peron. Lain halnya di Stasiun Bundaran HI, jalur kereta akan berubah sebelum menuju Stasiun Bundaran HI. Kami pun berganti peron ke peron 2 yaitu Bundaran HI. Ada tangga, ada eskalator, ada lift, tinggal pilih sesuai kebutuhan. Ganti peron harus turun dulu, lalu jalan mengikuti papan petunjuk ke peron 2, kemudian naik. Penumpang sudah berjejer di belakang garis kuning. Senang banget, bisa rapih gini!

Tap Out MRT Indonesia A-Z
Tap Out MRT

Pulang ke kantor, kami turun di Stasiun Senayan. Sudah ada petunjuk arahnya mau keluar stasiun dimana. Ada keluar Thamrin Sudirman, ada pula arah Sisingamangaraja. Kami pilih keluar Thamrin Sudirman. Sempat liat juga di dalam stasiun bakal ada restoran siap saji yang segera buka. Waaah, harumnya bakal menggoda banget nih kalau udah buka, soalnya kan masih di bawah tanah yak. Keluar dari stasiun, agak bingung karena masih gak tau ini dimana. Untung ada satpam di ujung tangga keluar stasiun. Tinggal tanya, mau ke arah halte Trans Jakarta. Ternyata posisinya ada di seberang Ratu Plaza. Dan saat itu hujan. Beneran gak kedengaran hujan di bawah tanah. Kudu siap payung, karena kita gak tau apa yang terjadi di atas sana.

Bagi kamu yang belum coba MRT, mumpung masih gratis dan mulai hari ini sampai hari sabtu (23/3) bisa dijajal tanpa registrasi online. Asalkan datang langsung ke stasiun pada waktu 7 pagi hingga 5 sore. MRT Jakarta secara komersial tapi gratis mulai 25 Maret 2019 sampai 31 Maret 2019, dari pukul 05.30 sampai 22.30 WIB